Saya baru saja mendapatkan email ini dari temen. Saya copy paste disini. Bagaimana keakuratan berita ini. Apakah memang demikian?
Nong Darol Membantah adanya “Skenario” Monas
Jumat, 06 Juni 2008
Nong Darol Mahmada, aktivis kubu AKKBB mengeluarkan bantahan di berbagai milis soal skenario Monas. Katanya, kaum “fundamentalis” menghalalkan segala cara!
Hidayatullah.com—Akitivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB), Nong Darol Mahmada mengeluarkan sebuah surat bantahan. Bantahan ini disampaikan ke beberapa milis, di antara milis Mediacare dan milis Jurnal Perempuan.
Dalam penjelasannya, Nong menampik telah menulis surat pengakuan yang isinya skenario peristiwa dalam apel yang diadakan AKKBB di Monas.
“Kaum Islam fundamentalis memang sering memakai cara-cara "machiavelis" dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka. Termasuk membuat surat bohong,” demikian tuduh Nong.
Sebelumnya, setelah peristiwa Monas terjadi, seseorang yang mengaku bernama Nong Darol Mahmada menulis sebuah surat yang isinya berupa skenario Monas. Surat itu pertama kali ditulis di sebuah situs web www.kaskus.com.
Dalam sebuah postingan berjudul “Mengungkap Dibalik Kejadian Sebenarnya Kekerasan di Monas” tertanggal Rabu, 4 Juni 2008 itu dikirim dengan mengatasnamakan Nong Darol Mahmada, aktivis AKKBB, yang juga pegiat Jaringan Islam Liberal (JIL).
Dalam keterangan itu, pengirim yang bernama Nong, mengungkap skenario di balik aksi AKKBB di Monas.
Si penulis yang menyebut dirinya Nong, mengatakan, aksi yang dilakukan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Beryakinan (AKK BB) hanya dijadikan “kedok” untuk mencegah agar ajaran Ahmadiyah tidak dibubarkan.
Menurut si penulis, setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor JIL Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY di Cikeas, Bogor.
Lagi-lagi menurut si penulis, aksi ini dilakukan bekat akses langsung “orang dalam” yaitu Andi Malarangeng yang notabene kakak kandung dari Rizal Mallarangeng, juru bicara presiden SBY.
Dalam pertemuan ini, kata si penulis, dibahas isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aksi demo-demo yang dilakukan adek-adek mahasiswa. Lalu
SBY selaku presiden dan kepala pemerintah, dalam pengakuan tulisan itu meminta kalangan JIL mengalihkan Isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain, yakni isu kenaikan BBM yang sekarang ini diupayakan diganti dengan isu membubarkan Front Islam (FPI) dengan mengangkat isu pembubaran ajaran Ahmadiyah.
Skenario kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di markas JIL di Jalan Utan Kayu, Jakarta. Di Kedai Tempo mereka membahas bagaimana membuat skenario agar anggota FPI “dipancing” keluar dan melakukan tindakan anarkis dan perusakan. Skenarion akhirnya memanfaatkan momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni dalam berjuluk aksi simpatik (damai) di Monas.
Namun Nong membantah tulisan itu. “Saya tidak pernah menulis email seperti ini. email ini jelas-jelas bohong dan fitnah karena banyak yang tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan,” ujar Nong yang mantan alumni UIN Jakarta ini.
“Menurut saya email ini bertujuan memecah belah perjuangan dan gerakan yang sudah kita bangun bersama-sama,” tambah wanita yang telah melepaskan jilbabnya dan kini aktif di Jaringan Islam Liberal (JIL) ini. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
Untuk menyakinkan tulisan ini, saya perlu memperkenalkan diri dulu, nama Saya adalah Nong Darol Mahmada, saya salah seorang aktivis Jaringan Islam Liberal dan saya aktif di JIL sejak berdirinya JIL.
Dalam kesempatan sekarang izinkan saya memberikan kesaksian kepada kawan-kawan sebangsa dan setanah air melalui milis ini kejadian sebenarnya dibalik kejadian yang terjadi di Monas pada tanggal 1 Juni yang lalu.
Perlu kawan-kawan ketahui bersama bahwa aksi ini merupakan aksi yang telah di skenariokan oleh pihak pemerintah untuk mengalihkan isu BBM yang sedang marak ditengah masyarakat. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Beryakinan (AKK BB) hanya dijadikan kedok saja untuk mencegah agar ajaran Ahmadiyah tidak dibubarkan.
Setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor JIL Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY di Cikeas, Bogor. Hal ini mereka bisa akses langsung kedalam berkat orang dalam yaitu Andi Malarangeng yang notabene kakak kandung dari Rizal Mallarangeng.
Dalam pertemuan ini membahas isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aksi demo-demo yang dilakukan adek-adek mahasiswa. Lalu SBY selaku presiden dan kepala pemerintah meminta kalangan JIL mengalihkan isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain.
Rizal M, yang merupakan pemuda JIL yang cerdas memberikan usul bagaimana isu kenaikan BBM yang sekarang ini diupayakan diganti dengan isu membubarkan Front Pembela Islam (FPI) dengan mengangkat isu pembubaran ajaran Ahmadiyah. Karena selama ini JIL selalu mendapatkan perlakuan keras dari FPI.
Lalu setelah mendapatkan 'restu' dari presiden Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib dan Rizal Mallarangeng datang ke markas JIL di Jl. Utan Kayu No. 68 H Utan Kayu. Di Kedai Tempo mereka membahas bagaimana membuat skenario agar anggota FPI bisa melakukan tindakan anarkis dan perusakan yang membuat masyarakat tidak simpati lagi dengan FPI. Lalu setelah melakukan diskusi selama 3 jam, ketiga kontributor JIL itu akhirnya berhasil membuat skenario yang bagus, dengan memanfaatkan momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni, mereka akan membuat semacam aksi simpatik (damai) dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan. Aksi ini dilakukan di Monas, yang mana para peserta yang hadir sudah disetting sedemikian rupa agar anggota FPI turut datang dan membubarkan asyik tersebut. Mereka sangat paham betul, bahwa massa FPI sangat mudah sekali untuk dipancing agar melakukan kekerasan dan pengerusakan.
Setelah membuat skenario tersebut lalu Goenawan Mohammad, menghubungi SBY melalui ponselnya, setelah mendengar penjelasan dari Goenawan Mohammad secara terperinci, akhirnya presiden menyetujui aksi tersebut dan akan mentrasferkan dananya sebesar 10 miliard rupiah untuk melancarkan aksi tersebut.
Malam sebelum kejadian, beberapa pentolan JIL berkumpul di markas JIL, termasuk saya sendiri. Waktu itu yang hadir sangat ramai sekali dan sedang membahas persiapan untuk aksi besok pagi. Dari beberapa kawan-kawan yang diberikan tugas juga sudah selesai menjalankan tugasnya seperti mengundang kalangan pers media cetak dan media
elektronik untuk hadir di acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun bersedia mengerahkan beberapa massanya untuk menghadiri aksi damai besok. Begitu juga dengan FPI, sudah dikontak melalui SMS membuat isu kalau besok jamaah Ahmadiyah, akan menggelar aksi damai di silang damai.
Saya tidak tahu bagaimana persiapan dari FPI untuk merespon isue tersebut, tetapi nyatanya besok pagi ketika aksi damai itu sedang berlangsung dengan membawa nama AKKBB FPI datang dengan belasan truk dan ratusan anggotanya melakukan pemukulan kepada anggota aksi tersebut. Yang akhirnya terjadi aksi kekerasan tersebut. Hal ini yang
diketahui dikalangan anggota FPI adalah aksi tersebut adalah aksi yang dilakukan umat Ahmadiyah sehingga secara kasar dan memaksa membubarkan aksi tersebut.
Dari pemaparan dalam tulisan saya disini harus kawan-kawan milis ketahui bahwa,
- Bahwa aksi kekerasan yang terjadi di Monas itu merupakan suatu skenario yang dilakukan pemerintah dan pihak JIL untuk mengalihkan isu BBM.
- Aksi yang terjadi di Monas itu, JIL ingin FPI dibubarkan karena selama ini FPI merupakan yang menjadi sandungan kalau JIL melakukan aksi.
- Dari jamaah Ahmadiyah dengan aksi ini, diharapkan mendapatkan simpati dari masyarakat Indonesia agar organisasi ini tidak jadi dibubarkan.
- Kalangan petinggi JIL telah sekian kalinya, mendapatkan keuntungan untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.
Demikian tulisan ini saya buat dengan sebenarnya, karena hal ini yang membuat saya selalu merasa bersalah dan berdosa telah bersama-sama dengan kawan-kawan JIL melakukan pemutaran balikan fakta. Saya harap kawan-kawan setanah air dan sebangsa mau menyebarkan email kekawan-kawan sekalian. Terima kasih.
Salam
Nong Darol Mahmada
Nong Darol Membantah adanya “Skenario” Monas
Jumat, 06 Juni 2008
Nong Darol Mahmada, aktivis kubu AKKBB mengeluarkan bantahan di berbagai milis soal skenario Monas. Katanya, kaum “fundamentalis” menghalalkan segala cara!
Hidayatullah.com—Akitivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB), Nong Darol Mahmada mengeluarkan sebuah surat bantahan. Bantahan ini disampaikan ke beberapa milis, di antara milis Mediacare dan milis Jurnal Perempuan.
Dalam penjelasannya, Nong menampik telah menulis surat pengakuan yang isinya skenario peristiwa dalam apel yang diadakan AKKBB di Monas.
“Kaum Islam fundamentalis memang sering memakai cara-cara "machiavelis" dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka. Termasuk membuat surat bohong,” demikian tuduh Nong.
Sebelumnya, setelah peristiwa Monas terjadi, seseorang yang mengaku bernama Nong Darol Mahmada menulis sebuah surat yang isinya berupa skenario Monas. Surat itu pertama kali ditulis di sebuah situs web www.kaskus.com.
Dalam sebuah postingan berjudul “Mengungkap Dibalik Kejadian Sebenarnya Kekerasan di Monas” tertanggal Rabu, 4 Juni 2008 itu dikirim dengan mengatasnamakan Nong Darol Mahmada, aktivis AKKBB, yang juga pegiat Jaringan Islam Liberal (JIL).
Dalam keterangan itu, pengirim yang bernama Nong, mengungkap skenario di balik aksi AKKBB di Monas.
Si penulis yang menyebut dirinya Nong, mengatakan, aksi yang dilakukan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Beryakinan (AKK BB) hanya dijadikan “kedok” untuk mencegah agar ajaran Ahmadiyah tidak dibubarkan.
Menurut si penulis, setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor JIL Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY di Cikeas, Bogor.
Lagi-lagi menurut si penulis, aksi ini dilakukan bekat akses langsung “orang dalam” yaitu Andi Malarangeng yang notabene kakak kandung dari Rizal Mallarangeng, juru bicara presiden SBY.
Dalam pertemuan ini, kata si penulis, dibahas isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aksi demo-demo yang dilakukan adek-adek mahasiswa. Lalu
SBY selaku presiden dan kepala pemerintah, dalam pengakuan tulisan itu meminta kalangan JIL mengalihkan Isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain, yakni isu kenaikan BBM yang sekarang ini diupayakan diganti dengan isu membubarkan Front Islam (FPI) dengan mengangkat isu pembubaran ajaran Ahmadiyah.
Skenario kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di markas JIL di Jalan Utan Kayu, Jakarta. Di Kedai Tempo mereka membahas bagaimana membuat skenario agar anggota FPI “dipancing” keluar dan melakukan tindakan anarkis dan perusakan. Skenarion akhirnya memanfaatkan momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni dalam berjuluk aksi simpatik (damai) di Monas.
Namun Nong membantah tulisan itu. “Saya tidak pernah menulis email seperti ini. email ini jelas-jelas bohong dan fitnah karena banyak yang tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan,” ujar Nong yang mantan alumni UIN Jakarta ini.
“Menurut saya email ini bertujuan memecah belah perjuangan dan gerakan yang sudah kita bangun bersama-sama,” tambah wanita yang telah melepaskan jilbabnya dan kini aktif di Jaringan Islam Liberal (JIL) ini. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
0 komentar:
Poskan Komentar